Friday, November 4, 2011

my home isn't like a HOME

mungkin hanya dengan ini kubisa ceritakan padamu . tak ada tempat yang lebih baik dari rumahmu sendiri ~
menurutku itu semua benar tapi apa yang aku alami bukanlah hal baik seperti itu, bahkan aku merasa : tak ada tempat yang bisa membuat ku jadi gila selain dirumah ~
tak ada kesan pesan yang dapat kalian ambil dari sini. karena mungkin ini hanya luapan emosi seorang gadis.
rumah yang seharusnya bisa jadi tempat berlindung dari rasa takut, rumah yang seharusnya bisa jadi penerang saat mendapati cahaya gelap. bagiku itu tidak berlaku ~
didalam rumah aku hanya mendapatkan rasa takut setiap hari, rasa takut yang mungkin tidak setiap remaja gadis mengalaminya. rumah yang aku menyebutnya berisi monster-monster bertopeng malaikat. rumah ini sederhana, sesederhana hatiku saat pertama kali menginjakkan kaki dirumah ini. masa kecil yang kulalui disini tidak seindah yang pernah kulewati dirumahku yang dulu. rumahku bersama nenek dan dengan ibuku. ya HANYA IBUKU.
disini ~ jarang aku temui keriangan antar anggota keluarga, hal yang biasanya selalu terjadi dirumah lamaku. disini tidak ada teriakan tertawa anak kecil yang senang karena diajak bermain oleh ayahnya. yang aku temui disini hanya air mata setiap malam, dimana semuanya berubah setelah aku berada disini.
sakit sudah terlalu sakit mungkin hatiku, namun aku hanya bisa menutupinya dengan keras sikapku kepada anggota rumah ini. aku sudah cukup menderita dengan tumbuh tanpa ditemani seorang ayah sejak aku bayi. dan sekarang penderitaan itu justru bertambah saat aku memiliki seorang ayah baru.
seorang ayah seharusnya mampu menjaga anaknya dengan baik dan bukan malah memanfaatkan anaknya. seorang ayah seharusnya mampu menjadi pemimpin yang baik untuk keluarga, bukan menjadi anjing penjaga~
aku hanya iri kepada gadis lain yang masih diberi kesempatan untuk tumbuh bersama keluarganya yang utuh. betapa perihnya hati saat mendapati ayah dan ibuku berada disuatu tempat yang sama namun mereka tidak saling tegur sapa.
yah mungkin semua memang sudah takdir tuhan untuk aku dan ibuku. agar kami menjadi pribadi yang lebih tegar. tapi apa Tuhan sadar? setegar apapun manusia pasti ada saatnya dimana dia merasa lelah dengan semuanya.
didalam rumah yang seperti neraka ini, aku hanya berdoa kepada Tuhan semoga kebahagiaan itu cepat datang dan bisa benar-benar membuat hatiku bahagia.
kalaupun harus kuhentikan nafasku untuk kebahagiaan itu, akan kulakukan asalkan rumah ini tidak ada lagi air mata setiap malam. tidak ada lagi rasa sakit dan saling menyalahkan.



Written By : Desii Permata  ( @dessiprmt )

No comments:

Post a Comment