Aku duduk termenung memandang bulan dan bintang. Mengapa bulan dan bintang selalu setia pada malam? Mengapa bulan dan bintang selalu setia mengisi langit bersama? Walaupun terkadang bintang itu enggan hadir, pasti bulan selalu setia menunggu. Seperti itulah yang aku alami saat ini, dan seperti sang bulan, aku akan setia menunggu sang bintang hingga cahaya fajar menggantikan.
***
Aku sangat gembira mendengar hal itu, pernyataan cinta seorang cowo yang memang telah lama aku tunggu. Ahirnya cintaku pun terbalaskan oleh nya.
“Gue gak nyangka yas, kalo dia juga suka sama gue” curhatku pada Dyas melalui telepon.
“Ciyee. PJ sabi kali” ucap Dyas padaku.
“Haha oke tenang aja, besok gue kasih permen kaki yak satu. Haha”
“Yah payaaah lo ah, ntar gak awet lo kalo gak bagi-bagi PJ! Haha” ucapan Dyas sangat membuat aku kepikiran.
“Jahat lo ah” ucapku dengan nada sedih.
“Haha enggak sayang bercandaaaa. Hehe longlast ya cantik”
“Hehe gitu doong” ucapku lega karena Dyas mendukung hubungan backstreet-ku “Udah dulu ya, mau tidur. Inget! Jangan sampe ada yang tau!” ucapku mengingatkan Dyas.
“Oke siap boss. Hehe daaah”
Keesokan Paginya...
Aku menyusuri tiap anak tangga disekolah dengan perasaan yang sangat gembira.
“Hay Nay” sapa Nadien.
“Hay juga” jawabku dengan senyum yang sangat amat lebar. Hehe.
“Weileh cerah amat tuh muka?”
“Haha iya dooong, Nayla gitu” ucapku menunjukkan kebahagiaan yang sedang aku rasakan.
Setelah menaruh tas, aku pun segera beranjak keluar kelas sambil menunggu bel masuk. Aku menunggu dia yang kelasnya disebelahku. Yang baru saja resmi jadi pacarku kemarin sore. Hehe. Walaupun tidak bisa berbincang banyak, aku tetap senang apabila pagi ini bisa melihat dan mendapatkan senyumnya.
‘Naah itu dia’ ucap bathinku.
Kita saling senyum, namun tanpa sapaan. Karena aku dan dia memutuskan untuk backstreet dari siapapun. Yaa mungkin kecuali Dyas. Hehe
Tidak lama kemudian, bel pun berbunyi panjang. Mengakhiri pandang-pandanganku dengannya.
***
Istirahat...
Aku segera meninggalkan kelas untuk ke kantin.
Setelah sampai kantin, aku langsung memesan segelas jus stroberi dengan single choco roll. Lalu Pandanganku tertuju padanya. Dia yang berada tidak jauh dari mejaku. Dia yang menatap lembut ke arahku. Dan sesekali tersenyum manis untukku.
Perkenalkan, namaku Nayla Khiranna. Aku adalah remaja SMA yang sedang berbunga-bunga karena baru saja mendapatkan ‘dia’. Dia adalah Ikbal Narradhaniel, cowok ganteng yang kelasnya sebelahan dengan kelasku.
Kembali lagi ke kantin, segelas jus stroberi lengkap dengan choco roll telah ada dihadapanku. Namun, baru saja ingin mengambil choco roll nya, sudah keduluan oleh Nadien-_-
“Haha ngeliatin siapa sih lo Nay?” tanya Nadien sambil tertawa kecil ke arahku.
“Gak kok, gue gak ngeliatin siap-siapa” jawabku berusaha menutupi rasa kagetku.
“Yaelah Nad, emang lo gak tau apa? Si Nayla ngeliatin si Na..” ucapan Dyas pun terpotong karena aku menginjak kakinya sekuat kuatnya.
“Ngeliatin Nara yah?” ucapan Nadien kali ini membuat aku salting dan hanya terdiam.
“Bukan! Dia tuh ngeliatin si Nana, pasti dia berfikir ‘kapan yah gue bisa kurus kayak Nana’ Hahaha” ucapan Dyas agak membantuku menutupi ini, walaupun aku kurang setuju dengan kata-katanya.
Pulang Sekolah...
Aku bergegas pulang. Aku sempat bertemu Nara di parkiran, namun kita tidak bisa pulang bareng. Tapi kita sempat berbincang kecil dan Nara menunjukkan perhatiannya.
Setelah sampai rumah, aku segera mengganti baju dan masuk kamar. Aku pun bbman dengan Nara.
***
Setelah tujuh hari menjalani hubungan backstreet, akhirnya hubunganku ketahuan juga. Teman-temanku curiga karena aku selalu salting didepan Nara. Begitu juga dengan tatap mataku dan Nara apabila berpapasan.
“Udah Nay, ngaku aja. Lo jadian kan sama Nara?” tanya Nadien. Teman-temanku yang lain juga menanyakan hal yang sama.
Aku tidak mengiyakan juga tidak mengatakan tidak. Aku bingung harus bilang apa.
Nara datang, hendak mengajakku ke kantin. “Nayla sayang. Ke kantin yuk?” Nara pun langsung menggapai tanganku didepan teman-temanku. Sudah lama aku inginkan hal ini.
“Tuh kan, lo berdua curaaaang! Kok gak bilang sama kita-kita si?” ucap Jazmyn yang di iyakan oleh teman-teman yang lainnya.
“Masa iya gue musti laporan gitu sama lo?” ucapku sambil meletakan tangan didahi.
“Haha iya lo pada rempong deh. Nyokap nya aja gak tau” tambah Nara.
“Ya bukannya gitu Naaar, paling enggak lo pada bagi-bagi kebahagiaan lo berdua sama kita kan gak ada salahnya” tutur Jazmyn.
“Hehe tapi sekarang lo udah pada tau kan?” ucapku yang diiyakan oleh Nara.
***
4bulan Kemudian...
Hari-hari berlalu begitu cepat. Dan ku lalui dengan penuh kebahagiaan, karena Nara. Nara begitu berarti dalam hidupku beberapa bulan ini. Dia sudah menjadi bagian dalam cerita hidupku.
Tapi sekarang Nara berubah 180derajat. Nara tidak pernah lagi merespon bbm ataupun teleponku. Di sekolah pun Nara selalu menghindar dariku.
“Nara mana Nay?” tanya Dikha teman sekelasnya Nara.
“Gak tau” jawabku sangat singkat.
“Tumben. Biasanya berdua mulu kayak ban sepeda. Hehe”
“Gak tau lah!” ucapku seraya meninggalkan Dikha.
Aku beranjak menuju perpustakaan sambil memikirkan Nara. Aku tidak habis pikir terhadap sikap Nara sekarang. Dan tanpa disengaja aku bertemu Nara disana.
“Hai”ucapku seraya mendekati Nara. Tanpa Nara membalas sapaanku aku langsung bertanya “Ke perpus kok gak ngajak? Tumben banget”
“Sorry. Tadi mau ngajak tapi kamunya lagi sibuk sama Dikha. Aku gak mau ganggu” ucapan Nara sangat dingin dengan tidak memandang ke arahku sama sekali.
“Aku tadi gak ngomongin hal serius kok” ucapku menjelaskan pada Nara.
“Oh gitu. Yaudah aku duluan ya. Daaah” ucap Nara seraya meninggalkanku tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
Menangis. Itu yang sering aku lakukan setelah mengalami kejadian itu. Aku menyakiti diriku sendiri seperti Nara menyakitiku. Dia jarang sekali keluar kelas, mungkin karna kelasnya bersebelahan dengan kelasku. Aku sudah tidak berarti lagi untuknya.
***
Beberapa minggu kemudian...
Malam ini aku sangat suntuk. Akupun membuat puisi dan mengirimkannya kepada Nara.
Aku sendiri disini, berharap sang bintang menemani
Tapi mendung beserta basuh hujan yang datang
Aku sendiri disini, berharap malaikat menjelma kebahagiaan
Tapi kesedihan yang aku rasakan
Aku sendiri disini, berharap cintamu menghampiri
Namun, luka yang kau berikan di hati
Tapi.. Ku ingin kau tahu,
Aku sendiri disini, selalu menunggu kau kembali
Menghangatkan diriku yang kehilangan cintamu
Cintaku mulai tumbuh karena Nara. Walaupun kini Nara mengabaikan semuanya. Aku tetap tidak peduli. Aku yakin Nara pasti kembali seperti sebelumnya. Nara yang menyayangiku dan selalu peduli terhadapku. Cinta itu pasti akan hadir lagi dihatinya Nara.
Senin Pagi...
Hari ini sangat cerah, namun tetap tidak bisa membuat aku bersemangat.
‘Hmm aku malas upacara!’ keluh bathinku.
Akupun berbaris mengikuti upacara yang membosankan.
Nara berdiri tepat disebelahku. Namun dia samasekali tidak melihat ke arahku. Aku merasa tidak kuat untuk berdiri lebih lama lagi diposisi ini. Aku merasakan air mataku mulai jatuh perlahan. Aku tidak bisa membendungnya. Aku menangis lagi. Rasanya aku ingin segera pergi dari tempat ini. Ini begitu menyiksa untukku.
Nara menoleh kehadapanku, namun itu hanya sebentar. Lalu dia berbalik dan tidak menoleh lagi. Dia tidak memperdulikan aku. Aku sudah tidak penting lagi untuknya.
Upacarapun selesai. Aku bergegas menuju ke kelas tanpa memperdulikan siapapun. Aku hanya tidak mau melihat Nara dalam kondisi seperti ini.
“Udah lah Nayla sayang. Orang kayak gitu tuh gak pantes lo tangisin” ucap Dyas berusaha menenangkanku.
“Lo terlalu baik buat dia” tambah Nadien.
Aku hanya terdiam. Berusaha menguasai air mataku agar tidak terus menetes. Aku memeluk Dyas.
Tidak berapa lama Nara lewat depan kelasku. Nadien pun memanggilnya, namun Nara tidak mempedulikan itu sama sekali.
“Nara, sini lo!” ucap Nadien. Nadien pun keluar dan berbicara pada Nara.
Dyas pun ikut keluar menemui Nara.
Aku terus menangis. Terdengar suara Nara,Dyas, dan Nadien sedang bertengkar.
Aku berteriak “Udah cukup!”
Jazmyn masuk dan langsung menghampiri aku yang sedang menangis. “Lo kenapa Nay?” tanya Jazmyn seraya menenangkan aku.
“Gue gapapa kok” ucapku sambil menunjukkan senyum disela tangisanku.
“Kalo gapapa kenapa nangis?” ucapan Jazmyn kali ini berhasil membuat aku terdiam. “Ini tuh bukan elo banget!” ucap Jazmyn kesal.
Aku terus terdiam sambil berusaha menghentikan air mataku.
“Ayolah Nay. Gak ada untungnya lo nangis kayak gini” ucapan Jazmyn membuat aku memeluknya. Aku merasa sangat terpukul.
“Gue cuma kecewa aja Jaz, kenapa si Nara bisa kayak gini sama gue ya? Apa gue orang jahat? Atau gue udah gak pantes buat dia?” tanyaku pada Jazmyn.
“Ngapain lo tanyain hal bego kayak gini? Lo bukan orang jahat Nay. Bukan lo yang gak pantes buat dia. Tapi dia yang gak pantes buat orang sebaik lo” ucap Jazmyn menyemangatiku.
“Terus kenapa Nara kayak gini? Apa salah gue ke dia?” tanyaku.
“Lo gak salah Nayla sayaaang. Naranya aja yang bego! Dia gak tau terimakasih udah disayang sama orang sebaik lo” ucap Jazmyn. “Udah lo gak usah nangis lagi ya. Air mata lo terlalu mahal buat nangisin seorang Nara” tambahnya.
Aku memeluk Jazmyn lagi “Makasih ya Jaz, lo selalu ada buat gue disaat kayak gini”
“Kan sama kayak lo”
Gak lama kemudian Nadien dan Dyas datang. Menceritakan percakapannya dengan Nara.
***
2bulan Kemudian...
Nara tetaplah jadi Nara yang cuek. Setelah kejadian itu, Nara jadi sering absen. Sekalipun masuk, dia tidak pernah keluar kelas. Pulang sekolahpun dia selalu terburu-buru. Mungkin agar tidak bertemu denganku.
Kini, Nara tidak lagi seperti dulu. Tidak ada lagi kebahagiaan darinya. Yang ada hanya rasa sakit dan kesedihan apabila aku melihatnya. Semuanya telah berubah tanpa sebab yang aku mengerti.
Pulang Sekolah...
Selena, temannya Nara. Tiba-tiba menghampiri aku. Mengajak aku berbicara.
“Nay, sini deh” panggil Selena yang membuat aku agak terkejut karena memang aku tidak terlalu kenal dengannya.
“Ada apa ya?” tanyaku agak heran.
“Gue mau nyampein pesennya Nara buat lo” ucapan Selena kali ini membuat aku terdiam. “Mau denger kan?” tanya nya untuk memastikan aku masih mendengarkannya.
“Iya gue dengerin, emang Nara bilang apa sama lo?” tanyaku mencoba biasa.
“Nara minta tolong sama gue buat bilang ke lo, kalo dia mau hubungannya sama lo sampe disini aja” Selena terdiam, aku berusaha mengendalikan air mataku. “Dia bilang mau fokus belajar, apalagi kan sekarang mau UN, tapi lo jangan nge judge dia dulu. Kenapa musti gue yang ngomong ini semua? Karena dia gak sanggup kalo ngomong langsung sama lo. Dia gak bisa ngeliat lo nangis” penjelasan Selena membuat aku sangat sedih, tapi aku lega.
Aku tersenyum miris “Makasih ya Na” aku pun langsung meninggalkan Selena menuju ke kelas.
Aku duduk termenung disudut kelas. Aku merasakan kali ini air mataku membanjiri pipiku. Aku menangis, lagi. Dan teman-temanku pun berkumpul berusaha menenangkan aku.
Setelah merasa tenang. Aku memeluk sahabat-sahabatku.
‘Apa Nara gak nyadar kalo gue disini nunggu buat dia?’ ucap bathinku.
***
Aku mulai melupakan Nara dan semuanya tentang Nara. Aku mulai memulai semua hal-hal baru yang bisa membuat aku bahagia. Walaupun dihatiku, cinta untuk Nara masih tetap ada. Karena aku yakin, ini memang sudah takdirku dengan Nara. Nara yang selalu mengabaikan cintaku.
--SELESAI--
Written By : Desii Permata
Twitter : @dessiprmt
Facebook : Desii Nurpermata
Youtube : ( klik here )
Plurk : desiipermata