is it LOVE ?

Apakah ini yang dinamakan cinta sejati? Atau cinta pertama? Argh! Yang jelas aku gak pernah bisa untuk melupakannya. Entah karena semua keindahannya, atau sakit hati yang ditinggalkannya…
Yang membuat aku terus merindukannya. Dan berharap semua bisa kembali.
***
“Hai cewek, rokok gak?”
Satu kalimat yang membawa aku pada satu nama. Nama yang dulu akupun malas untuk menyebutnya. Jonathan , orang pertama yang berani menawarkan aku rokok.
Aku Fellicia Renata, siswi SMA, yang sedang dikelilingi bayang cowok yang mungkin gak banget buat dijadikan pacar. Tapi itu yang sedang aku alami, justru aku menantang untuk bisa memilikinya.
“Eh Cha, gimana sama Jonathan?” tanya Mimmi sahabatku.
“Mmm .. gak gimana-gimana kok” ucapku datar.
“Yaah. Terus gimana kelanjutannya sama dia?”
“Biasa aja sayaaaaaaaang. DATAR! hehe”
“Eh gimana kalo kita taruhan?” ajak Mimmi.
“Maksud lo?” tanyaku bingung.
“Yaaah kalo lo bisa mendapatkan Jonathan, gue traktir lu di ‘7eleven’ selama sebulan”
“Hahaha terus kalo gue gak bisa mendapatkan Jonathan, gue yang traktir lo? Gitu?”
“Iya laah Ichaaa ku sayang! Hehe”
“Ah ogah ! Gak mau gue.”
“Yaaah takut nih ceritanya? Yakin menang gak, Cha? Hihi”
“Yah dia nantangin gue. Haha oke deh!”
Akhirnya aku mulai menarik perhatiannya Jonathan, aku membuat dia merasakan suka. Haha. Yaah walaupun Cuma untuk mainan semata.
***
Malam Itu Dirumah...
“Cha. Gimana sama Jona? Ini hari terakhir loh. Hehe” Tanya Mimmi.
“Mmm, nanti dia mau kesini kok Mi, tunggu aja. Hihi”
“Iya apa? Wah wah gue kalah dong ?”
“Iya dong. Fellicia Renata gitu loh. Haha” ucapku penuh rasa bangga.
**Tidak berapa lama kemudian Jonathan datang**
“Assalamu’alaikum” ucap Jona
“Wa’alaikumsalam” jawabku dan Mimmi. Akupun langsung bergegas keluar untuk menemui Jona.
“Hai Cha” ucap Jona
(tiba-tiba aku merasa deg-degan. Hihi) “Hai, sampai juga di rumah gue. Gue kira tadi lu nyasar. Hehe”
“Gak dong. Cha, gue kan sering lewat depan gang rumah lo setiap berangkat dan pulang sekolah”
“Oheheh. Duduk deh, gue mau mengambil minum dulu yaa”
Gak berapa lama kemudian aku kembali keluar dengan membawakan segelas air untuk Jona.
“Cha, lo serius omongan yang ditelepon tadi?” tanya Jona padaku.
“Ya iyalah serius Jonaaa ku! Haha. kenapa emang?”
“Emangnya lo mau punya pacar kayak gue?”
“Sebenernya sih gak mau, Jon. ini juga terpaksa. Hihihi” ucapku melucu.
“Yaah jadi gak serius yah? Ya udah deh, Cha” wajah Jona berubah menjadi sedih.
“Ya ampun Jona sayang, gue bercanda kali. Terus jawabannya apaan?” ucapku memberikan harapan kepada Jona.
“Hemm, emang apa alasan lo mau punya cowok kayak gue?” tanya Jona.
Ucapan Jona membuatku diam seribu bahasa. Aku bingung! Enggak mungkin juga kan kalo aku bilang saat ini aku sedang taruhan dengan Mimmi?! Ya Tuhan, bantu aku untuk menjawab.
“Kok diam Cha?”ucapan Jona membuyarkan ketakutanku
“Hehe gak kok, gue bingung aja. Emang kalau orang mau jadi pacar ada alasannya ya? Padahal rasa ini juga gue gak tau munculnya dari mana” ucapku spontan. Terimakasih Tuhan.
“Oh gitu ya?hem ya sudah deh. Tunggu sebentar lagi mau kan Cha?”
Ucapan Jona kali ini membuat aku bingung dan makin takut ketahuan.
“Emangnya nunggu apa lagi deh?”
“Gak kok sebentar lagi juga lo tau. Hehehe”
Ya sudahlah, sambil ikut menunggu, aku berbincang-bincang kecil dengan Jona, sambil mendalami sifat Jona. Disinilah aku temukan hal yang tidak aku inginkan. Sesuatu yang membuat aku melihat Jona dari sisi yang berbeda. Ya Tuhan, jangan kau bilang ini yang dinamakan cinta.
Tiba-tiba Mimmi keluar dari dalam dan pamit untuk pulang,
“Cha gue pulang yaa, udah malam. Besok jadi ke ‘7eleven’ kan Cha?” tanya Mimmi padaku.
“Oh jadi kok, nanti sms saja ya Mi” ucapku pada Mimmi.
Mimmi pun pulang dan meninggalkan aku berdua dengan Jona, lalu …
**Jam 21.00**
“Icha, gue mau jadi cowok mlo” ucap Jona tiba-tiba ditengah perbincangan kita.
‘Yess! Mimmiiiii, gue menang kan Hahaha’ ucapku dalam hati.”Ohehe terimakasih yaa Jona. Jangan mainin gue ya? ingat! Hehe” ucapku pada Jona menutupi semua kebohonganku.
Itulah awal yang tidak mengasyikan bagiku, Jonathan Riendra telah menjadi pacarku sekarang. Yaa walaupun cuma taruhan. Hihi
***
Menjalani hari-hari dengan Jona selalu terasa istimewa. Dari hal-hal kecil yang mungkin buat orang lain itu gak ada artinya sama sekali, tapi buat aku dan Jona justru dari hal kecil itulah kita bisa memiliki sesuatu yang amat sangat besar artinya.
***
1 Tahun Kemudian…
Hari demi hari aku lewati bersama Jona, membuat aku lupa awal mula niatku untuk jadian dengannya. Jona memberikan cinta yang begitu tulus kepadaku dan tidak sedikit pun kesalahan yang ia perbuat, di mata ku kini, Jona adalah hal terindah yang pernah aku miliki. Dan dihatiku, Jona adalah bagian terpenting yang telah melekat bersama seluruh cerita di buku harian ku.
“Sayang, Happy Anniversary yah” ucap Jona yang terdengar olehku dengan penuh ketulusan.
“Iya sayang, semoga kita langgeng sampai kakek nenek yaah. Hihi” ucapku penuh harapan.
“Pokoknya besok harus jadi hari aku dan kamu! Gak boleh ada yang ganggu!” ucap Jona
“Iya sayang, sampai jumpa besok yaa, kamu jemput aku jam berapa sayang?”
“Jam 11 yaa sayang, aku mau bener-bener seharian sama kamu” pinta Jona.
“Oke jam 11 aku akan dandan yang cantik buat kamu. Hehe”
“Hehe. bisa saja cewekku ini, kamu itu gak usah dandan juga udah cantik sayang”
Ucapan Jona membuatku malu dan hanya tertawa kecil.
“Ya udah sekarang kan udah malam, kamu tidur ya sayang. Besok waktunya buat kita berdua” ucap Jona penuh harapan.
“Ya udah, kamu juga tidur yaa sayang. Aku sayang banget sama kamu
“Aku juga Fellicia Renata.. Good night”
Aku rasa ini akan lebih istimewa dari biasanya. Aku akan mimpi lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Semua ini karena Jona.
***
2 Bulan Kemudian…
Disinilah awal permasalahan antara aku dengan Jona. Jonathan Riendra, menghilang begitu saja tanpa sebab. Yang sama sekali aku gak ngerti.
“Chaa Ichaa, mana Jona?” tanya Mimmi.
“Tahu Cha, gak biasa banget. Dia gak pernah keliatan lagi dirumah lu?” tambah Dave, cowoknya Mimmi.
“Gak tau deh, lagi sibuk sama cewek barunya mungkin” ucapku ringan menutupi rasa penasaran bercampur sedih yang sedang aku alami.
‘Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi? Kenapa dengan Jona? Ada apa dengan Jona, Tuhan?’ ucap batin ku yang amat miris.
Kulalui hari-hari tanpa Jona, dan tanpa cinta nya yang begitu indah. Tak ada alasan yang berarti yang membuat Jona menghilang begitu saja. Tapi aku yakin ini semua hanya perjalanan  terjal yang harus aku tempuh dengan Jona. Aku akan sabar menunggunya dan terus berusaha mencari tau ada apa dengannya.
**Sampai Pada Saat Itu**
Ponsel ku berbunyi membangunkanku dari lamunanku tentang Jona. Ternyata ada pesan masuk.
From : My OnlyOne
Sayang, maafin aku yah udah bikin kamu bingung dan lelah nunggu aku. Ada beberapa hal yang ngebuat aku kayak gini dan aku enggak bisa ngejelasin sekarang kenapa semuanya jadi kayak gini.
Tapi yang jelas, ini semua bukan karena aku ataupun kamu, tapi
Pesan Jona terputus dikata ‘tapi’? Tanpa menunggu lama, aku langsung menelepon Jona, tapi tidak aktif lagi! ‘tapi apa?’ itu yang mengganggu pikiranku saat ini.
Apa yang terjadi dengan hubunganku dengan Jona? Aku sama sekali gak ngerti!
Kenapa saat ini aku baru sadar, kalo aku benar-benar sayang sama Jona? Dan aku enggak bisa kehilangan Jona! Padahal niat awal aku jadian sama Jona cuma mau menunjukkan ke Mimmi, kalo aku bisa mendapatkan Jona! Tapi makin kenal dengan Jona, makin aku sayang sama dia dan gak bisa melupakan dia, apalagi mengingat kalo aku hanya menjadikannya taruhan, itu tidak terlintas lagi sedikitpun di pikiran ku. Apa mungkin ini yang namanya CINTA? Yaa Tuhan, kenapa harus dengan Jona?!
***
Tahun Baru…
Malam ini sangat sepi. Tak ada satu hal pun yang bisa membuat wajahku ini kembali ceria.
“Cha. Jalan-jalan yuk! Kita cari suasana baru” ucap Mimmi dan Dave padaku.
“Ah males ah! Nanti juga Jona sms gue. Terus ngajak gue jalan-jalan deh. Hehe” ucapku menutupi perihnya hati.
“Masih saja nunggu Jona?! Ckck” ucap Mimmi heran padaku.
“Iya Mi, lo tau kan Jona itu sekarang udah jadi apa buat gue? Dan lu juga kehilangan dia kan Mi?” ucapku pada Mimmi, yang telah menganggap Jona sebagai kakak nya sendiri.
**Waktu Menunjukkan Pukul 00.00**
Teringat tahun lalu, saat aku merayakannya bersama Jona di tepian pantai. Tempat yang paling ditakuti Jona. Hehe. Jona itu paling takut sama air yang banyak, seperti laut, danau, sungai dan kolam renang. Kedengarannya memang aneh. Tapi, itulah Jona. Itulah salah satu hal kecil yang membuat aku geli sendiri ketika mengingatnya.
‘Sayang, Happy New Year yaa. Semoga tahun ini kamu tetap ada buat aku’ ucap batinku sedih.
Ponsel ku berbunyi,
My OnlyOne calling …
Hah! Jona menelepon! Aku langsung mengangkat telepon itu.
“Sayang” terdengar suara yang sudah lama aku rindukan “Happy New Year yaa sayang” lanjutnya dengan suara kecil yang amat halus.
“Happy New Year too sayang, kamu sedang apa?” tanyaku mencoba bersikap biasa.
“Aku lagi dirumah yang, ngeliatin kembang api banyak banget." Jona pun terdiam sejenak "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“Iya mau ngomong apa, sayang?” tanyaku pada Jona penuh rasa penasaran.
“Tapi kamu janji sama aku jangan berubah ya, sayang” ucapan Jona kali ini membuat aku tidak ingin mengetahui apa yang ingin Jona sampaikan.
“Iya kenapa?” tanyaku pada Jona dengan sisa-sisa kekuatanku.
“Maafin aku yang udah diem ke kamu terlalu lama. Aku mau besok kita ketemu ditempat biasa. Bisa enggak?”
“Oh iya aku bisa! Jam berapa? Kamu jemput aku enggak?” ucapku
“Kita ketemu disana saja ya sayang, jam 7 malam” ucap Jona.
***
Keesokan Harinya…
Aku datang sejam lebih awal dari janji ku dengan Jona, karena aku tak ingin membuat Jona menungguku. Beberapa menit lewat dari jam 7, Jona datang.
“Cha. Udah lama nunggu? “ ucap Jona padaku
“Hey, gak kok” jawabku senang bisa melihat wajahnya lagi.
“Kamu datang sendiri, Cha?” lanjut Jona.
Zlep! Cha? Jona memanggil aku ‘Cha’? Apa ini pertanda buruk ? Ya Tuhan, kuatkanlah aku.
“Ii iya aku sendiri” ucapku terbata “Kamu juga sendiri kan?” tanyaku pada Jona.
“Iya, gimana kabar kamu, Cha? Baik kan?”
“Iya baik kok. Baik. Buktinya aku bisa ada disini sekarang” jawabku.
“Aku mau langsung ngomong aja, Cha” ucap Jona membuat ketakutanku makin bertambah. Tanpa harus aku jawab, Jona pun melanjutkan ucapannya “Maafin aku ya Cha udah ngebuat kamu sampe kayak gini. Aku sama sekali gak ada niat untuk bikin kamu jadi kayak gini. Maaf banget. Maafin aku. Kita udahin aja hubungan kita. Maafin aku Cha
ZLEP! Ini hal yang aku takuti! Dan sekarang. Ini benar-benar terjadi!
“Ichaa maafin aku, aku tau aku salah. Kamu boleh benci aku Cha, tapi gak akan ngubah posisi kamu dihati aku” lanjut Jona penuh penyesalan.
Air mataku tumpah dalam sekejap . Pipiku basah. Aku merasa lemas tiba-tiba, seperti semua kekuatanku yang aku pertahankan selama ini hilang begitu saja.
“Apa kamu bilang?” ucapku tersendat ditengah tangis “Kenapa baru sekarang kamu bilang ini?KENAPA?!” emosiku tak terkendali. Aku memukul keras tubuh di hadapanku.
“Ichaa sekali lagi aku minta maaf” perkataan Jona membuat hatiku semakin sakit.
Akupun beranjak pergi meninggalkan Jona yang ikut menangis, melihat aku.
** Di perjalanan pulang **
Jona mengirim pesan ..
From : My OnlyOne
Sayang ,
Maafin aku yang harus bilang kayak gini. Kalo aku boleh milih, aku gak akan pernah mau ninggalin kamu. Aku ngerasa, udah dapat semua kebahagiaan aku dari kamu, sayang.
Tapi aku yakin, suatu saat nanti kamu akan ngerti kenapa semuanya jadi kayak gini.
Maafin aku, maaf banget. Kamu boleh benci aku. karena aku emang pantas untuk kamu benci. Tapi satu hal yang gak akan berubah, posisi kamu dihati aku, tetep yang paling aku sayang
Aku merasa sangat terpukul. Apalagi dengan alasan Jona yang sangat tidak jelas.
Menagis! Mungkin hal itu yang bisa aku lakukan setelah kepergian Jona.
***
Di kamar...
Malam ini aku hanya menangis dan terus menangis sampai aku merasa lelah untuk menangis. Aku menangis di pelukan boneka yang diberikan Jona, boneka elmo yang mengenakan baju berwarna hijau. Mmm boneka elmo, elmo adalah tokoh serial tv kesukaanku dan hijau adalah warna kesukaan Jona.
ARGH! Mengingat semua tentang Jona membuat aku semakin terpuruk!
“Hallo Mi” ucapku ditelpon pada Mimmi.
“Iya Icha, lo kenapa Icha sayang?” tanya Mimmi kaget.
“Gue putus Mi dengan Jona” ucapku sambil menangis.
“Kapan Cha? Dia bilang apa? Ya ampun! Benar kan feeling gue. Udah yaa Ichaa ku sayang, jangan nangis lagi. Sabar yaa. Icha kan cewek yang kuat” ucap Mimmi memberi semangat kepadaku.
Aku pun meneruskan curhat dengan Mimmi..

** Keesokan Paginya **
Aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi padaku. Baru pagi ini aku merasa sangat gelap dan sepi. Walaupun Jona telah meninggalkanku, namun bagiku kejadian semalam hanyalah mimpi buruk yang tidak akan mengubah semuanya. Walaupun sulit kupercaya, dan cepat atau lambat harus aku terima.
***
2 Tahun Kemudian...
Tahun demi tahun berganti, namun perdebatan dihati tak pernah usai. Jona, waktuku setahun dengannya, hanya satu tahun. Namun, sudah dua tahun berlalu setelah kepergian Jona, tapi bayangnya masih amat sangat jelas dihati dan pikiranku.
Kini aku sudah duduk di bangku kuliah, tapi kenangan tentang Jona masih jadi hal yang paling setia menemaniku.
“Ichaa, gimana dengan teman kampus lo?” tanya Mimmi.
“Gimana apanya?” jawabku singkat.
“Ada yang menarik gak?”
“Hemm gak ada! Buat gue Jona tetap cowok gue. walaupun...” ucapanku terputus oleh Mimmi
“Ya ampun Ichaaaa! Dua tahun yaa! Itu bukan waktu yang sebentar Cha! Dan waktu sebanyak itu cuma lu pergunakan cuma buat mengingat seorang Jonathan Riendra?!” ucap Mimmi kesal dan kaget.
“Tapi Mi, lo tau kan Jona itu apa buat gue? Lagi pula Jona juga udah janji buat menceritakan semuanya ke gue” ucapku pada Mimmi penuh keyakinan.
“Tapi gak begini juga caranya! Ini sama saja lo nyiksa diri sendiri!”
“Tapi cuma ini yang bisa bikin gue seneng, Mi. Walaupun kadang ada sakit yang ikut gue rasain, tapi gue tetap ngerasa beruntung”
“Terserah lu deh! Gue yakin. Kalau Jona tahu keadaan lu kayak gini, dia bakal benci banget sama lu. Dan dia malah makin lama ngejauh dari lu. Lagipula sekarang Jona udah punya cewek. Dia pasti udah lupa dengan janjinya” ucap Mimmi membuat aku terpuruk.
“Dia gak mungkin lupa! Dia emang udah punya cewek, tapi dia pernah bilang kalau dia bakal selalu sayang sama gue, Mi” ucapku membela diri.
“Walaupun lu  gak pernah ketemu dia lagi?!”
“Iya! Gue percaya dia, Mi”
“Itu yang bikin lo ingat dia dan selalu membandingkan cowok-cowok yang suka sama lo dengan dia? Sampe kapan lo mau kayak gini, Chaa?Hah?! Sampe semua cowok tau Jona? Dan semua cowok ilfeel sama lo karena ulah lo sendiri!” ucap Mimmi kesal padaku.
Kata-kata Mimmi ada benarnya juga. Enggak baik jika aku terus-terusan meratapi Jona. Tapi ini semua bukan kemauanku. Semua tentang Jona selalu muncul tiba-tiba. Dan membuat aku seperti ini. Aku masih sayang Jonathan Riendra!
***
Beberapa Bulan Kemudian...
Aku mulai mencoba menjalani hidupku dengan tanpa pikiran tentang Jona dan mencari teman-teman sebanyaknya. Walaupun Jona tetap tidak bisa menghilang dari ingatanku. Aku tetap menjalani  hidupku tanpa Jona dan tanpa seorangpun disampingku.
*Seminggu yang lalu Jona mengirim pesan...

Form : Still My OnlyOne
Cha. Aku tau keadaan kamu sekarang.
Aku cuma mau, kamu ngerti aku cha, aku sekarang punya orang lain di hidup aku yang gak mungkin aku tinggalin, Cha. Maaf, aku tau ini nyiksa banget buat kamu. Dan aku mau, kamu pasti bisa ngejalanin hidup kamu sekarang. Doa aku selalu yang terbaik buat kamu Fellicia Renata
Pesan dari Jona itu sedikit membuka hatiku. Tetapi dihatiku yang lebih dalam lagi aku akan selalu menyayanginya dan menunggunya. Aku mulai membuka hatiku untuk mereka yang menyayangiku. Namun tetap tidak melupakan Jona...

--SELESAI--








Written By : Desii Permata
Twitter : @dessiprmt
Facebook : Desii Nurpermata
Youtube : ( klik here )
Plurk : desiipermata